Pembilang Nomina: Numeralia

Numeralia atau kata bilangan adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya maujud (orang, binatang, atau barang) dan konsep. Frasa seperti: lima hari, setengah abad, orang ketiga, dan beberapa masalah mengandung numeralia, yakni masing-masing lima, setengah, ketiga, dan berbagai.

Pada dasarnya dalam Bahasa Indonesia ada 2 macam numeralia:

  1. Numeralia Pokok
    Yang memberi jawab atas pertanyaan “berapa?”
  2. Numeralia Tingkat
    Yang memberi jawab atas pertanyaan “yang keberapa?”

Tiap-tiap kelompok itu dapat pula dibagi lagi menjadi sub-bagian yang lebih kecil seperti yang akan terlihat dalam bagian-bagian berikut.

NUMERALIA POKOK

Numeralia Pokok Tentu

Numeralia pokok mengacu ke bilangan. Bilangan pokok adalah sebagai berikut:

  • 0 – nol
  • 1 – satu
  • 2 – dua
  • 3 – tiga
  • 4 – empat
  • 5 – lima
  • 6 – enam
  • 7 – tujuh
  • 8 – delapan
  • 9 – sembilan

Numeralia Pokok Tentu Klitika

Disamping numeralia pokok yang telah disebutkan, adapula numeralia lain, yang dipungut dari bahasa Jawa kuno. Tetapi, numeralia itu umumnya berbentuk pro-klitika. Jadi, numeralia macam itu dilekatkan dimuka nomina yang bersangkutan.

Contoh:

  • eka – ‘satu’ : ekamatra – “satu dimensi”
  • dwi – ‘dua’ : dwiwarna – “dua warna”
  • tri – ‘tiga’ : triwulan – “tiga bulan”
  • catur – ’empat’ : caturwulan – “empat bulan”
  • panca – ‘lima’ : Pancasila – “lima sila”
  • sapta – ‘tujuh’ : Saptamarga – “7 peraturan prajurit”
  • dasa – ‘sepuluh’ : dasalomba – “10 perlombaan”

Disamping numeralia tunggal itu, adapula numeralia lain, merupakan gugus. Untuk bilangan diantara 10 dan 20 dipakai gugus yang berkomponen belas

Dengan demikian, kita mengenal:

  • 11 – sebelas
  • 12 – dua belas
  • 13 – tiga belas
  • …..
  • 19 – sembilan belas

Bentuk se- dipakai untuk memulai suatu gugus dan artinya adalah “esa” atau “satu”. Kecuali untuk bilangan antara sebelas sampai kesembilan belas.

Maka gugus diantara 9 – 99 berkembang/berkomponen puluh. Jika sesudah gugus itu ada bilangan lain yang lebih kecil, maka kita kembali memakai bilangan pokok. Dengan demikian, kita memperoleh:

  • 10 – sepuluh
  • ….
  • 90 – sembilan puluh
  • 21 – dua puluh satu
  • 34 – tiga puluh empat
  • 86 – delapan puluh enam
  • 99 – sembilan puluh sembilan

Gugus antara 99 – 999 berkomponen ratus, dan antara 999 – 999.999 berkomponen ribu

Contoh:

  • 6.000 — enam ribu
  • 1.100 — seribu seratus
  • 9.200 — sembilan ribu dua ratus
  • 4.015 — empat ribu lima belas
  • 7.450 — tujuh ribu empat ratus lima puluh
  • 9.825 — sembilan ribu delapan ratus dua puluh lima

Komponen Juta, Miliar, Triliun

Proses seperti itu berlanjut dengan gugus yang berkomponen juta untuk bilangan dengan enam nol. Diatas bilangan itu ada dua pengertian di dunia ini:

  1. Bagi negeri seperti Amerika Serikat, gugus yang berkomponen biliun itu ialah bilangan dengan 9 nol, yaitu 1.000 juta
  2. Bagi kebanyakan negeri di Eropa, istilah biliun mengacu ke bilangan dengan 12 nol, yaitu 1 x 106 juta

Istilah trilius bagi Amerika Serikat mengacu ke bilangan dengan 12 nol, tetapi di Eropa mengacu ke bilangan dengan 18 nol.

Kita mengikuti Eropa, dan memakai istilah miliar, sedangkan untuk bilangan dengan 12 nol, kita mengikuti Amerika Serikat dan menggunakan istilah triliun. Sepatutnya kita meluruskan itu dengan menggantikan kata miliar dengan biliun, sehingga kita memperoleh perangkat yang bersistem rapi:

  • Juta : 1 x 106
  • Biliun : 1 x 109
  • Triliun : 1 x 1012
  • Kuadriliun : 1 x 1015
  • Kuantilium : 1 x 1018
  • …. dst

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa bilangan itu diatas bilangan 19 dinyatakan dengan menganggap seolah-olah bilangan itu terdiri atas beberapa gugus dan bilangan. Perhatikan contoh berikut ini!

  • 7.859
    7.000 – tujuh ribu
    800 – delapan ratus
    50 – lima puluh
    9 – sembilan

Seperti yang dapat kita lihat pada contoh diatas, untuk setiap tiga bilangan dari belakang, dipakai tanda titik sebagai pemisah. Dinegara lain, seperti Amerika Serikat, orang memakai tanda koma untuk hal yang sama itu.

Dalam bahasa Indonesia baku, numeralia pokok ditempatkan dimuka nomina dan dapat diselingi oleh kata penggolong, seperti -orang, -ekor, -buah.

Urutannya menjadi: (numeralia – penggolong – nomina)

Akan tetapi, orang sering tidak memakai penggolong, sehingga numeralia pokok langsung ditempatkan dimuka nomina. Berikut ini adalah beberapa contohnya:

  • Belilah tiga buah buku tulis
  • Belilah tiga buku tulis
  • Bambang memerlukan tiga orang penyunting
  • Bambang memerlukan tiga penyunting
  • Pak Zen mempunyai 2 ekor burung merak
  • Pak Zen mempunyai 2 burung merak

Jika numeralia ditempatkan dibelakang nomina, maka kata penggolongnya tidak dapat ditanggalkan. Bandingkan dengan contoh berikut:

  • Belilah buku tulis tiga
  • Belilah buku tulis tiga buah
  • Bambang memerlukan penyunting tiga
  • Bambang memerlukan penyunting tiga orang

Urutannya menjadi: (nomina – numeralia+penggolong)

Numeralia Pokok Kolektif

Bentuk numeralia pokok kolektif dibentuk dari prefiks ke- yang ditempatkan dimuka nomina yang diterangkan. Contoh:

  • Ketiga pemain — semua pemain dari nomor 1 hingga nomor 3
  • Kedua gedung — baik gedung pertama maupun kedua

Jika tidak diikuti nomina, maka biasanya bentuk kata itu diulang dan dilengkapi dengan akhiran -nya.

Perhatikan contoh berikut ini:

  • Anda memilih yang mana? kedua-duanya
  • Kita membeli berapa? ketiga-tiganya

Numeralia pokok kolektif dapat dibentuk juga dengan cara lain:

1. Pemakaian numeralia pokok yang diikuti oleh prefiks ber- dan kadang-kadang pula se- yang dihubungkan dengan nomina tertentu. Contoh:

  • tiga — tiga bersaudara
  • empat — empat beranak
  • lima — lima bersahabat
  • tiga — tiga serangkai
  • tiga — tiga sekawan
  • dua — dua sejoli

2. Penambahan prefiks ber- pada numeralia pokok dan hasilnya diletakkan sebuah pronomina person: kamu, kami, kita, mereka. Contoh:

  • lima → (kamu) berlima
  • tiga → (mereka) bertiga
  • dua → (kita) berdua
  • enam → (kami) berenam

3. Pemakaian numeralia yang berprefiks ber- dan yang diulang. Contoh:

  • Berpuluh → berpuluh-puluh (gabungan kelompok yang masing-masing 10 jumlahnya)
  • Beribu → beribu-riu
  • Berjuta → berjuta-juta

4. Pemakaian numeralia yang bersufiks -an. Contoh:

  • puluh → puluhan (beberapa puluh)
  • ratus → ratusan
  • belas → belasan
  • juta → jutaan

Numeralia Distributif

Numeralia distributif dapat dibentuk dengan cara mengulang kata bilangan, yang artinya ialah:

  • …. demi ….
  • masing-masing

Contohnya:

  • Satu demi satu
  • Masing-masing dua

Kata: “setiap”, “tiap-tiap”, dan “masing-masing”, termasuk numeralia distributif. Kata “setiap” atau “tiap-tiap” mempunyai arti yang sangat mirip dengan kata “masing-masing”. Tetapi, kata “masing-masing” berdiri sendiri tanpa nomina, dan kata “setiap” atau “tiap-tiap” tidak dapat berdiri sendiri.

Contoh penggunaan dalam kalimat:

  • Semua siswa akan mendapat buku, masing-masing 1 buku
  • Tiap-tiap peserta wajib membayar uang pendaftaran

Gabungan Numeralia

Gabungan numeralia: lusin, kodi, meter, liter, gram, rupiah

Contoh:

  • Kalau ke toko, belilah 2 lusin piring
  • Wanita itu membeli pakaian 1 kodi
  • Saya akan memesan kain 2 meter
  • Berapa harga minyak itu per 10 liter?
  • Mengapa Anda hanya membeli emas 100 gram?
  • Perempuan itu menukarkan uang seribu rupiah

Numeralia Pokok Tak Tentu

Numeralia ini mengacu ke jumlah yang tak tentu, dan pada umumnya tidak dapat menjadi jawaban atas pertanyaan: “berapa?” Numeralia itu adalah:

  • Banyak — Banyak orang
  • Berbagai — Berbagai masalah
  • Beberapa — Beberapa lembar
  • Semua — Semua jawaban
  • Seluruh — Seluruh rakyat
  • Segala — Segala penjuru
  • Segenap — Segenap anggota

Numeralia ini ditempatkan di depan nomina yang diterangkan. Sebagian dari numeralia itu mengacu ke pengertian kejamakan. Tapi, dalam bahasa Indonesia baku, konsep kejamakan itu tidak dinyatakan dalam wujud nomina yang jamak.

Jadi, untuk menyatakan jumlah orang yang banyak, kita tidak mengatakan: “Banyak orang-orang”, tetapi: “Banyak orang”. Demikian pula jika jawaban para mahasiswa harus dinyatakan dalam bentuk tulisan, maka kita mengatakan: “Semua jawaban harus dalam bentuk tertulis, dan tidak: “Semua jawaban-jawaban harus dalam bentuk tertulis”.

NUMERALIA TINGKAT

Numeralia pokok dapat diubah menjadi Numeralia Tingkat, numeralia yang menyatakan tingkat. Cara mengubahnya adalah dengan menambahkan “ke-” didepan bilangan yang bersangkutan. Khusus untuk bilangan satu (1) dipakai istilah “pertama”

Contoh:

  • Ke-1 (pertama)
  • Ke-2 (kedua)
  • Ke-x

NUMERALIA PECAHAN

Setiap bilangan pokok dapat dipecahkan menjadi bagian yang lebih kecil yang dinamakan numeralia pecahan. Cara membentuk numeralia pecahan ialah dengan memakai kata “per” diantara bilangan pembagi dan penyebut. Dalam bentuk tulisan, dipakai garis yang memisahkan kedua bilangan itu. (–)

Contoh:

  • Seperdua : ½
  • Tiga perempat : ¾

Bilangan pecahan dapat mengikuti bilangan pokok

Contoh: 7 ½ — tujuh seperdua (bil. pokok + bil. pecahan)

Bilangan campuran seperti diatas, dapat pula dituliskan dengan cara desimal: 7½ — 7,5

Perhatikan bahwa bilangan dengan 3 nol atau lebih dipisahkan dengan tanda titik (.) sedangkan pecahan atau desimal dipisahkan dengan tanda koma (,)

Recommended
Bahasa Indonesia memiliki sekelompok kata yang membagi-bagi dalam kategori tertentu menurut bentuk-rupanya. Penggolong nomina yang…